PERJAMUAN KAWIN ANAK DOMBA ITU
DI SORGA ATAUKAH DI BUMI ?


 

Pertanyaan No. 44 :

Apakah artinya perkawinan yang dibicarakan di dalam buku "Christ's Object Lessons," p. 307, dan di dalam buku "The Great Controversy," pp. 426, 427? Dalam hal yang satu ia itu dikatakan merupakan "penggabungan kemanusiaan dengan keilahian"; dalam hal yang satunya, ialah "penyambutan Kristus akan kerajaan-Nya"; dan dalam hal yang lainnya ia itu dikatakan, bahwa perkawinan itu "terjadi di dalam sorga, sedangkan (orang-orang suci itu) berada di bumi" sementara "menunggu Tuhan mereka, apabila la akan kembali dari perkawinan itu." Mohon Saudara menjelaskan masalah yang rumit ini bagi kami!

Jawab :

Hendaklah kita ingat bahwa pembicaraan lambang-lambang ini berikut banyak lagi yang lainnya, adalah hanya lukisan kebenaran-kebenaran, bukan kebenaran-kebenaran itu sendiri. Sebagai contoh, pendirian Kerajaan itu dilukiskan, dalam contoh yang satu dengan "penuaian"; semua warga Kerajaannya dilukiskan dengan "gandum"; dan Kerajaan itu sendiri dengan "lumbung." Matius 13 : 30. Dalam contoh yang lain, pendirian Kerajaan itu dan pemisahan orang-orang berdosa dari antara orang-orang benar, dilukiskan dengan malaikat-malaikat yang menarik "pukat" ke pantai, kemudian duduk, memisah-misahkan ikan yang jelek dari antara ikan yang baik, dan memasukkan yang baik itu ke dalam "keranjang-keranjang", tetapi membuang keluar dari padanya ikan-ikan yang jelek itu (Matius 13 : 48). Dalam contoh ini warga Kerajaan itu dilambangkan dengan ikan-ikan yang baik; dan Kerajaan itu sendiri dilambangkan dengan "keranjang-keranjang."

Dengan demikian, sementara itu adalah benar bahwa perkawinan Kristus ialah suatu "penggabungan kemanusiaan dengan keilahian," itupun juga benar bahwa perkawinan itu ialah "penyambutan kerajaan-Nya," karena manusia yang membentuk Kerajaan itu. Oleh sebab itu, maka perkawinan adalah sama dengan penobatan; Kerajaan itu sendiri sama dengan kota itu, atau pengantin wanita; dan para tamu adalah sama dengan umat kesucian, atau warga Kerajaan itu. Di sini kita lihat, bahwa apabila Kristus menerima Kerajaan-Nya, maka la benar-benar akan menggabungkan kemanusiaan dengan keilahian.

Penyambutan Kerajaan-Nya itu terjadi di dalam sorga sementara umat kesucian masih berada di bumi, seperti yang dilihat oleh Daniel: "Aku tampak dalam khayal-khayal di malam hari, maka bahwasanya, seseorang seperti Anak Manusia datang dengan awan-awan di langit, dan la datang kepada Yang Tiada Berkesudahan hari-Nya itu, dan mereka menghantarkan-Nya hampir ke hadapanNya. Maka di sana dikaruniakan kepada-Nya pemerintahan, dan kemuliaan, dan sebuah kerajaan, supaya semua orang, bangsa-bangsa, dan bahasa-bahasa, berbakti kepada-Nya: bahwa pemerintahan-Nya adalah sebuah pemerintah yang kekal, yang tidak akan berlalu, dan kerajaan-Nya itulah yang tidak dapat dibinasakan." Daniel 7 : 13, 14.

Dengan memfokus secara nubuatan kepada peristiwa yang sama ini, maka Yesus melambangkannya sebagai berikut: "Seseorang bangsawan pergi ke suatu negeri yang jauh untuk menerima bagi diri-Nya sebuah kerajaan, dan kemudian kembali." Lukas 19 : 12. Perhatikanlah bahwa la menerima Kerajaan itu (memperoleh hak milik atasnya) sementara la pergi, bukan sewaktu la kembali. (Lihat buku The Great Controversy, pp. 426, 427.)

Demikian itulah, maka perkawinan itu ialah pentahbisan Kristus, yang terjadi di dalam kaabah sorga sewaktu semua wargaNya di bumi ini bersiap diri, sementara pekerjaan itu berlangsung mencapai penyelesaiannya, dan masa kasihan berakhir. Jadi, jelaslah, bahwa perkawinan itu terjadi sebelum la datang untuk "menyambut" semua umat kesucian bagi diri-Nya (Yahya 14 : 3), dan sebelum mereka menemui Dia "di langit." 1 Tesalonika 4 : 16, 17. Kemudian dari itu "perjamuan" diselenggarakan.

Dengan sendirinya, walaupun perkawinan itu terjadi di dalam sorga, namun umat kesucian itu sementara di bumi adalah para tamu yang diharapkan menghadiri perjamuan kawin itu. Kemudian, sesudah perkawinan itu diteguhkan di dalam Tempat Yang Maha Suci, maka Yesus kemudian turun dari langit lalu mengambil tamu-tamu itu bagi diri-Nya, sehingga di mana la berada, di sanapun mereka dapat berada (Yahya 14 : 1 - 3). Di sanalah mereka "makan perjamuan perkawinan Anak Domba itu” --- The Great Controversy, p.  427; Wahyu 19 : 9. Dalam hal ini sementara orang-orang suci itu disebut sebagai para tamu, maka kota suci itu disebut sebagai "pengantin wanita." Wahyu 21 : 9, 10.

Kembali : tepat sebelum perkawinan itu, sewaktu umat kesucian itu masih di bumi, kebenaran mereka disebut sebagai "kain khasa halus" kepunyaan pengantin wanita (kota) itu." Wahyu 19 : 8.

Pelajaran-pelajaran yang diajarkan melalui ilustrasi-ilustrasi ini maupun yang lainnya akan menjadi mutiara-mutiara kebenaran yang tak ternilai bagi orang-orang yang memperhatikannya.