PANDANGAN YANG MULA-MULA ATAUKAH YANG
KEMUDIAN?


 

Pertanyaan No. 40 :

Early Writings, p. 75 mengatakan: "Apabila persatuan ada sebelum tahun 1844, maka hampir semua orang telah bersatu pada pandangan yang tepat mengenai 'yang sehari-hari' itu; tetapi dalam kekacauan semenjak tahun 1844 itu, maka pandangan-pandangan lain telah dianut." Jadi, mengapakah buku Traktat No : 3, "Pehukuman dan Penuaian," halaman 26, masih mengemukakan suatu pandangan lain yang bahkan sama sekali tidak dikenal di waktu itu? Bukankah "korban yang sehari-hari" dari Daniel 8 : 12 itu berarti "medzbah kurban kepunyaan Yehovah"?

Jawab :

Benar, Early Writings memang mengatakan bahwa menjelang tahun 1844 hampir semua orang telah bersatu pada pandangan yang benar, namun tidak dikatakan pandangan apa yang dimaksudkan itu, dan tampaknya tidak seorangpun kini mengetahui. Hal itu mungkin sekali bahwa "yang sehari-hari" itu adalah "bukan sebuah pertanyaan ujian," atau bahwa ia itu sama sekali tidak dipahami, dan bahwa semua orang dengan sendirinya sepakat bahwa dalam kondisi-kondisi yang ada di waktu itu, diam adalah yang terbaik; dengan demikian, itu sudah akan merupakan "pandangan yang tepat" untuk memahami persoalan itu. Sesungguhnya, ada terdapat banyak pandangan-pandangan yang mungkin pada mana mereka telah dapat bersatu, namun yang mana kiranya tidak perlu bergantung pada interpretasi yang tegas mengenai perkataan "yang sehari-hari" itu saja. Tetapi, satu hal yang pasti : sekiranya mereka telah memiliki kebenaran mengenai "yang sehari-hari" itu, maka penulis buku Early Writings itu sudah akan menerbitkannya, dan sudah akan mengajarkannya; sehingga kita semua di waktu ini sudah akan mengerti apa artinya.

Bahwa pandangan itu bukan sedemikian seperti yang membuat "yang sehari-hari" itu menjadi “medzbah kurban kepunyaan Yehovah," sudah lebih dulu dikuatkan oleh kenyataan, bahwa Early Writings, p. 74 mengatakan, bahwa "perkataan 'kurban' itu telah disisipkan oleh akal manusia, dan bukan merupakan sebagian dari kalimat itu." Dan karena bukan merupakan pasangan dari perkataan "kurban", maka perkataan "yang sehari-hari" itu dengan sendirinya tidak mungkin dapat dikaitkan dengan sesuatu medzbah apapun juga yang sedemikian ini.

Interpretasi mengenai "yang sehari-hari" itu di dalam buku Traktat No. 3 adalah sesuai dengan Alkitab dan juga dengan sejarah, dan karena itulah tak dapat tiada telah merupakan "ajaran yang sehat."