HIMBAUAN PERKENALAN DARI
TANYA JAWAB INI


 

Sebuah Hotbah Stephanus Bagi
Sidang di Waktu Ini


 


"Hai Tuan-Tuan, Saudara-Saudara, dan Bapak-Bapak sekalian, dengarlah : Bahwa Allah yang maha mulia telah menyatakan diri- Nya kepada nenek moyang kita Ibrahim, tatkala ia berada di Mesopotamia, sebelum ia berdiam di negeri Haran. Maka firman Tuhan kepadanya : Keluarlah engkau dari tanah airmu, dan dari kaum keluargamu, dan pergilah ke suatu negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu." Kisah Rasul-Rasul 7 : 2, 3. "Maka berangkatlah Ibrahim dari sana sesuai yang difirmankan Tuhan kepadanya" (Kejadian 12 : 4), lalu pergi sesuai bimbinganNya memasuki Kanaan, dan disanalah ia tinggal; walaupun Tuhan "tidak memberikan kepadanya harta milik apapun di dalamnya, setapak kakipun tidak, namun la berjanji bahwa la akan mengaruniakannya kepadanya untuk menjadi miliknya dan milik keturunannya, sekalipun pada waktu itu ia belum beranak." Kisah Rasul-Rasul 7 : 5.

Kemudian pada waktunya, Tuhan bermaksud memimpin Yakub dan rumah tangganya keluar dari Kanaan, turun ke Mesir. Walaupun demikian, karena mengetahui bahwa putera-putera Yakub itu tidak mungkin mau pergi seperti halnya Ibrahim dengan hanya begitu saja menyuruh mereka itu pergi, maka sebab itu dalam kekuasaan-Nya la menciptakan di dalam hati Yakub suatu kasih sayang yang lebih besar kepada Yusuf lebih dari pada kepada anak-anaknya yang lain. Inilah yang menimbulkan kedengkian dan iri hati di dalam mereka, yang pada gilirannya menimbulkan kebencian dan gelojoh, yang dimanifestasikan dalam perbuatan mereka yang kejam sampai menjual Yusuf, yang akibatnya ia telah dibawa pergi sebagai budak ke Mesir.

Bertahun-tahun kemudian sewaktu saudara-saudaranya Yusuf itu memasuki Mesir untuk mencari makanan selama kelaparan tujuh tahun itu, maka Yusuf, yang mengerti akan rencana kuasa Ilahi dalam drama kehidupannya yang aneh itu dari perbudakan sampai kepada menduduki tahta kerajaan, mengatakan kepada saudara-saudaranya sambil "memperkenalkan dirinya" kepada mereka : "Janganlah bersedih hati ataupun marah di antara sesamamu, karena kamu telah menjual diriku ke sini ; karena Allah telah mengutus aku mendahului kamu untuk memelihara nyawa orang ……….  dan ………. untuk memeliharakan kamu sebagai suatu keturunan di bumi, dan untuk menyelamatkan nyawamu oleh suatu kelepasan yang besar." Kejadian 45 : 1, 5, 7.

Demikianlah Tuhan sesuai kuasa takdir telah meninggikan Yusuf untuk ikut menduduki tahta Mesir untuk mempengaruhi Phiraun supaya mengijinkan Israel memasuki tanah itu.

Berikutnya, untuk menarik mereka ke sana, la mendatangkan ke sana kelimpahan selama tujuh tahun, yang kemudian menyusul tujuh tahun kelaparan itu. Kemudian disampaikannya pesan kepada Yakub bahwa Yusuf masih hidup. Oleh berita yang sangat menggembirakan itu, bangkitlah di dalam hati bapanya suatu kerinduan yang tak dapat dihalangi untuk menengok anaknya. Hal inilah berikut derita kelaparan yang menimpa saudara-saudara Yusuf itu telah memaksa mereka untuk pindah memasuki tanah Phiraun yang berkelimpahan itu, di mana di sana mereka telah hidup seperti raja-raja.

Tetapi karena bukan direncanakan untuk membiarkan mereka di sana untuk selamanya, maka Tuhan tidak membiarkan hidup mereka terus menyenangkan seperti pada mulanya, supaya jangan mereka menolak mematuhi Musa apabila ia datang membawakan firman bahwa saatnya telah tiba bagi mereka untuk kembali pulang. Maka la mendatangkan lagi suatu takdir penyelamatan yang lain, kali ini membiarkan kesengsaraan menimpa mereka, supaya apabila dipanggil mereka akan menyambut dengan suka cita. Demikian itulah mereka telah jadi seperti budak-budak, bahkan lebih berat lagi, telah dirampas dari mereka anak-anak laki-lakinya, kemudian dengan pukulan-pukulan cemeti di punggung-punggung mereka secara kejam, mereka diharuskan menghasilkan lebih banyak lagi batu-batu bata.

Demikianlah kuasa Roh yang bergabung dengan ngerinya penderitaan dari perbudakan mereka yang berat di Mesir itu, telah merupakan dorongan kuat yang memaksa mereka untuk meninggalkan tanah kapir itu untuk kembali ke tanah airnya sendiri.

Kemudian, pada perjalanan mereka kembali menjumpai lagi suatu kejadian takdir ilahi yang lain --- yaitu pengembaraan mereka yang lama di padang belantara, empat puluh tahun lamanya --- yang telah dibiarkan Allah untuk maksud memisahkan dari antara mereka orang-orang yang tidak percaya, yaitu rombongan besar orang-orang yang tidak setia yang telah mengikuti Pergerakan itu keluar dari Mesir. Setelah mereka ini dibinasakan, maka orang-orang yang luput itu secara mentaajubkan menyeberangi sungai Yarden, sama seperti halnya empat puluh tahun sebelumnya mereka menyeberangi Laut Merah. Di sana setelah menyingkirkan dari tengah-tengah mereka seorang berdosa, yang bernama Akhan, yang telah muncul di antara mereka pada waktu itu, maka mereka kemudian memasuki tanah perjanjian itu lalu menjadi kerajaan yang sangat gilang gemilang pada zamannya. Budak-budak itu kemudian menjadi raja-raja --- betapa mentaajubkan, bukan?

Dengan sendirinya orang dapat berpikir, bahwa suatu umat yang secara sedemikian mengherankan telah dibebaskan Allah dari perbudakan, dan kemudian secara sama mentaajubkan telah dibuatkan Allah bagi mereka sebuah kerajaan, kini pasti tidak akan pernah lagi jatuh karena mereka adalah kuat. Tetapi karena melalaikan Kekuatan mereka, maka mereka kembali jatuh ke dalam tawanan. Dalam kelemahan sebagai budak-budak di bawah Phiraun, Allah telah mengangkat mereka mencapai kekuatan melebihi majikan-majikan Mesir mereka ; kini dalam kekuatan mereka sendiri sebagai majikan-majikan, la kembali merendahkan mereka menjadi tawanan bangsa-bangsa di sekeliling mereka. Dua kali keajaiban.

Di sini terdapat bukti yang pasti, bahwa Tuhan telah mendirikan mereka, dan Tuhan juga yang meruntuhkan mereka (2 Tawarikh 36 : 13 - 23), "supaya mereka," sesuai firman-Nya. "dapat mengetahui semenjak dari matahari terbit, dan semenjak dari barat, bahwa tidak ada lagi yang lain selain AKU. AKU lah Tuhan, dan tidak ada lagi yang lain." Yesaya 45 : 6.

Dalam perjalanan masa, dengan genapnya tujuh puluh tahun yang dinubuatkan oleh Yeremiah (Yeremiah 29 : 10), maka Allah sekali lagi menghantarkan Israel ke dalam tanah airnya sendiri. Tetapi setelah bertahun-tahun lewat, generasi-generasi lama diganti oleh generasi-generasi baru, maka Israel kembali melalaikan Tuhan Kekuatan mereka, kali ini selengkapnya mereka lalaikan, sehingga pada waktu Messias yang telah lama dinanti-nantikan itu akhirnya datang, maka mereka menolak-Nya, menyaIibkan-Nya, dan bahkan meludahi-Nya.

Sebagai pembalasan ilahi, maka dalam murka-Nya Allah memalingkan wajah-Nya dari mereka, lalu menyerahkan mereka ke tangan para penindasnya, yang membinasakan kaabah mereka dan kota bentengnya, yang menghalaukan mereka keluar dari tanah airnya, dan membiarkan mereka sebagai bangsa yang telah ditinggalkan, yang terbuang tanpa Allah, tanpa mata uang, tanpa negeri, sebagai suatu bangsa yang dibenci oleh semua bangsa semenjak dari hari itu sampai sekarang.

Tetapi, tidak semua telah dibuang sedemikian ini. Sejumlah besar dari mereka telah terbuka matanya akan kenyataan itu, bahwa orang-orang besarnya telah menuduh-nuduh Tuhan secara palsu, memutar-balikkan nubuatan-nubuatan yang berkenan dengan diri-Nya, dan menyesatkan orang banyak itu. Oleh perantaraan mereka yang masih setia ini, la mempertahankan benih Israel itu. Oleh menerima Kristus dan menjadi orang-orang Kristen, maka putera-putera Yakub yang setia ini telah diganti nama mereka dari Yahudi menjadi Kristen, sama seperti yang dibayangkan dalam penggantian nama nenek-moyang mereka oleh Allah dari Yakub menjadi Israel, dan leluhur mereka dari Abraham menjadi Ibrahim.

Dimulai dengan 120 orang murid yang dipenuhi Roh, maka sidang Kristen Yahudi ini telah mentobatkan 3000 jiwa pada hari Pantekosta oleh menghotbahkan hanya sebuah hotbah sederhana yang mengandung kuasa Roh, dan kemudian "menambahkan kepada sidang setiap harinya sedemikian ini sesuai orang-orang yang akan diselamatkan." Kisah Rasul-Rasul 2 : 47.

Pengumpulan jiwa-jiwa yang banyak ini sedemikian rupa telah menimbulkan amarah Setan, sehingga ia membalasnya dengan "menganiayakan perempuan itu (sidang Kristen Yahudi itu) yang telah melahirkan bayi laki-laki itu" (Wahyu 12 : 13), sedemikian rupa untuk menghalanginya mentobatkan orang, dan untuk menghalangi orang-orang yang telah berhasil ditobatkannya untuk menggabungkan diri dengannya.

(Dari bantuan dasar fakta-fakta, bahwa anak wanita itu, yaitu Kristus, yang "telah dibawa kepada Allah," ayat 5, telah lahir di dalam sidang Yahudi, dan bahwa sidang Kristen muncul dari sidang Yahudi, mendirikan dengan kokoh wanita itu sebagai lambang hamba-hamba Allah yang setia baik di dalam sidang-sidang wasiat lama maupun wasiat baru).

Sebagai akibat penganiayaan terhadap perempuan itu, maka Setan, gantinya menghalangi rencana ilahi itu, ia malahan secara ironis hanya membantunya. Memang, di ladang sidang (Matius 13 : 38) hanya bertumbuh "gandum-gandum" yang murni, "pukat" itu (ayat 47) hanya menangkap "ikan-ikan" yang baik saja, maka aniaya terhadap mereka yang sedemikian ini akan membuat orang-orang yang setia itu makin berani memihak kepada Kebenaran dan menjadi anggota-anggota dari sekte agama yang dibenci. Oleh sebab itu, setelah melihat hasil-hasil penindasannya, maka segeralah ia merubah taktiknya.

Gibbon mengatakan : "Dengan beberapa keputusan toleransi ia (Constantine) telah menyingkirkan semua hambatan-hambatan sementara yang sampai pada waktu itu telah menghalangi kemajuan-kemajuan Kristen ; maka pendeta-pendetanya yang giat dan yang berjumlah besar itu memperoleh ijin kebebasan, yaitu suatu dorongan terbuka untuk menganjurkan kebenaran-kebenaran hasil ungkapan yang sehat dari setiap argumentasi yang dapat mempengaruhi akal sehat atau kesetiaan manusia. Keseimbangan yang merata kedua agama itu (Kristen dan Kekapiran) berlangsung hanya sementara ………. Kota-kota yang menunjukkan semangat kemajuannya oleh merusakkan secara suka rela kuil-kuil (Kekapiran) mereka, memperoleh penghargaan hak-hak istimewa kota, dan dihadiahi dengan pemberian-pemberian resmi ………. Keselamatan rakyat biasa dapat dibeli dengan tarif pembayaran yang murah, sekiranya ia itu benar, sehingga dalam setahun saja dua belas ribu orang telah dibaptiskan di Roma, belum terhitung sejumlah yang sama wanita dan anak-anak, dan bahwa sebuah jubah putih berikut dua puluh keping emas telah dijanjikan oleh kaizar kepada setiap orang yang bertobat.” Inilah "sebuah perundang-undangan dari Constantine, yang memberikan kebebasan kepada semua budak yang hendak memeluk agama Kristen." --- Gibbon's Rome, vol. 2, pp. 273, 274 (Milman Edition).

Segera setelah Setan menyuruh agen-agennya menghentikan penindasan terhadap orang-orang Kristen, dan mulai menggabungkan diri dengan mereka, maka ia membohongi mereka itu supaya berpikir bahwa ia adalah kawan mereka. Demikianlah setelah aniayanya itu berakhir, maka tertidurlah mereka secara rohani; dan sementara mereka itu tidur, ia menaburkan benih-benih lalang.

Memang, ia telah membuat suatu perubahan total dan bahkan mendesak orang-orang kapir untuk menggabungkan diri dengan sidang, dengan demikian "ia menyemburkan air dari dalam mulutnya bagaikan air bah mengikuti perempuan itu dari belakang, supaya dapat ia menghanyutkannya dengan air bah itu." Wahyu 12 : 15. Gantinya menganiaya orang-orang yang mau menggabungkan diri dengan sidang, ia berbalik menganiaya orang-orang yang tidak mau menggabungkan diri dengan sidang, supaya sidang dapat dibanjiri dengan orang-orang kapir yang tidak bertobat dan dengan demikian ia akan "dihanyutkan oleh air bah itu.” Wahyu 12 : 15.

Untuk mempertahankan orang banyak itu dalam kegelapan di zaman pelopor-pelopor reformasi itu, ia seolah-olah memasang klem mengunci mereka, kemudian ia membuka lebar-lebar kipas anginnya untuk mematikan terang yang bernyala-nyala itu, dan setelah itu pun gagal, maka dipasangnya "pendeta-pendeta yang tidur yang berhotbah kepada suatu umat yang tidur.” --- Testimonies, vol. 2, p. 337.

Cara yang sangat berhasil ini telah ditempuhnya berulang kali semenjak dahulu, sehingga akibatnya sidang pada waktu ini hampir-hampir telah dipenuhi dengan lalang-lalang. la itu seolah-olah telah dirembesi oleh pasukan musuh.

Hamba Tuhan mengatakan dalam suatu pandangan yang nyata mengenai kondisi ini sebagai berikut : "Malam itu saya bermimpi, bahwa saya berada di Bettle Creek sementara memandang keluar melalui sisi kaca pada pintu, maka ku tampak suatu rombongan yang sedang berbaris maju mendatangi rumah, dengan berdua-dua. Mereka tampaknya tegas dan bertekad. Saya mengenal mereka dengan baik, lalu saya menoleh hendak membuka pintu depan untuk menyambut mereka, namun ku pikir saya hendak melihat kembali. Pemandangan itu berubah. Rombongan itu kini memperlihatkan bentuk suatu upacara Katholik. Seseorang membawa di dalam tangannya sebuah salib, seorang lainnya membawa sesuatu alat buluh. Dan sementara mereka itu mendekat, maka orang yang membawa alat buluh itu membuat lingkaran sekeliling rumah, sambil mengatakan sebanyak tiga kali : 'Rumah ini adalah terlarang. Barang-barangnya harus disita. Sekaliannya telah berbicara menentang tata-tertib kami yang suci.' Saya dicekam ketakutan, lalu saya berlari melalui rumah, keluar dari pintu utara, lalu mendapati diri saya di tengah-tengah suatu rombongan orang, sebagiannya saya kenal, tetapi saya tidak berani mengucapkan sepatah-kata kepada mereka karena takut dikhianati. Saya berusaha mencarikan suatu tempat istirahat dimana saya dapat meratap dan berdoa tanpa dilihat orang yang ingin tahu kemanapun saya menoleh. Saya berulang kali mencoba, 'Sekiranya saya dapat hanya memahami hal ini ! Sekiranya mereka mau memberitahukan kepada saya apa yang telah saya katakan, atau apa yang telah saya perbuat!’

"Saya banyak meratap dan berdoa setelah saya melihat barang-barang kami disita. Saya mencoba membaca perasaan simpathi atau kasihan terhadap diri saya pada pandangan orang-orang yang mengelilingi saya, dan menandai wajah kebanyakan orang yang kukira akan berbicara kepada saya dan menghiburkan saya sekiranya mereka tidak takut bahwa mereka akan dimata-matai oleh orang lain. Saya mencoba untuk meloloskan diri dari rombongan orang banyak itu, namun karena melihat bahwa saya telah dimata-matai, maka saya merahasiakan semua niat hati saya. Saya mulai lagi meratap dengan nyaring sambil mengatakan: 'Sekiranya mereka mau hanya memberitahukan kepada saya apa yang telah saya perbuat, atau apa yang telah saya katakan !' Suamiku yang tidur di dalam ruangan yang sama, setelah mendengar aku meratap dengan nyaringnya, lalu membangunkan daku. Bantalku basah dengan air mataku, dan roh-roh depresi yang sangat menyedihkan menimpa diriku." --- Testimonies, vol. 1, p. 578.

Tetapi, janjinya adalah bahwa membanjirnya lalang-Ialang itu akan tinggal di dalamnya hanya sampai kepada masa penuaian, yaitu musim bagi pemisahan mereka --- akhir dunia itu.

Selama Setan masih berhasil meneruskan pekerjaan membanjiri sidang secara subversif ini, maka ia tidak akan pernah menggerakkan jarinya untuk menganiaya seseorang pun karena menggabungkan diri dengan sidang, supaya jangan oleh karenanya ia menghalangi rencana jahatnya sendiri untuk mempersatukan barisan anggota-anggota sidang dengan agen-agennya --- air bah itu, atau lalang-Ialang itu. Untuk menjamin keberhasilan pekerjaan yang busuk ini, maka ia membuang keluar orang-orang yang berani menghayati kehidupan Kristen yang konsisten di antara lalang-lalang itu, sementara ia terus berusaha dengan alat pemadamnya yang terpasang, untuk mematikan setiap cahaya terang kehidupan.

Sungguhpun demikian, pada akhirnya sesuai yang diungkapkan oleh nubuatan, maka meja-meja itu akan berbalik, dan pertikaian yang panjang itu akan berakhir dengan dibuang Tuhan dan dibinasakan-Nya (Wahyu 12 : 16) akan agen-agen Setan, "air bah" itu (lalang-lalang dan ikan-ikan yang jelek) dan kemudian menerangi bumi dengan kemuliaan dari malaikat-Nya (Wahyu 18 : 1).

Di sini kita saksikan bahwa pekerjaan yang sedang mendekat untuk melepaskan orang-orang dari air bah itu, yang olehnya melepaskan sidang dari orang-orang yang tidak bertobat, ialah pekerjaan "penuaian itu" di "akhir dunia." Matius 13 : 39. Berikutnya kita harus menentukan apakah "akhir dunia" itu menghantarkan zaman kedamaian seribu tahun millenium itu atau masa kesusahan yang besar itu yang sedemikian itu belum pernah ada. Untuk menentukan yang mana, maka kita harus mencarikan petunjuk-petunjuk melalui peristiwa-peristiwa berikutnya.

Karena adalah sesudah bumi menelan air bah itu, baharu naik amarah naga terhadap perempuan itu lalu pergi ia "memerangi yang tersisa dari benihnya, yaitu mereka yang memeliharakan hukum-hukum Allah, dan memiliki kesaksian Yesus Kristus itu" (Wahyu 12 : 16, 17), maka dengan sendirinya tersimpul, bahwa penuaian itu dalam mana air bah Setan itu dibuang keluar dari sidang, yaitu lalang-Ialangnya yang banyak itu, tentunya tidak akan menghantarkan masa seribu tahun millenium yang damai. Memang tidak, melainkan sebaliknya ia itu akan menghantarkan murka Allah --- masa kesukaran itu yang sedemikian itu belum pernah ada sebelumnya ; yaitu masa di mana umat Allah di Babilon dipanggil "untuk keluar dari padanya" dan masuk ke dalam sidang-Nya yang sudah disucikan --- Kerajaan itu.

Oleh sebab itu, maka penuaian itu akan merupakan suatu masa periode singkat sebelum, dan bukan pada saat munculnya Kristus di dalam awan-awan di langit. Itu adalah hari-hari masa kasihan yang terakhir bagi kerajaan-kerajaan di bumi, --- yaitu hari-hari dan pekerjaan yang menghantarkan akhir dunia.

Kenyataan bahwa ada terdapat suatu umat yang sisa (yang tertinggal) dari benih perempuan itu, menunjukkan bahwa benihnya telah terbagi menjadi dua bagian, dan bahwa dengan sendirinya simbol itu memperlihatkan tiga kelompok orang-orang : (1) perempuan itu; (2) bagian pertama dari benihnya --- yaitu orang-orang yang dalam peristiwa ini adalah bukan umat yang tersisa; (3) bagian kedua dari benihnya --- yaitu orang-orang yang merupakan umat yang tersisa itu.

Dalam terang dari gambaran simbolis ini, perempuan itu sendiri terlihat melambangkan bagian yang merupakan ibu dari pada sidang --- yaitu para pendeta pilihan Allah yang dipenuhi Roh yang membawa masuk orang-orang bertobat yang telah dilahirkan kembali (Yahya 3 : 3). Sesuai dengan itu, maka bagian pertama benihnya itu harus merupakan buah-buah pertama, yaitu mereka yang 144.000 itu, yang telah memisahkan diri dari orang-orang berdosa yang terdapat di antaranya, yang akan dibawa ke Gunung Sion, untuk berdiri di sana bersama-sama dengan Anak Domba ltu (Wahyu 14 : 1). Oleh sebab itu, maka "yang tersisa dari benihnya itu" dalam peristiwa ini ialah orang-orang yang masih tertinggal di bumi sewaktu Babilon menunggangi binatang itu (Wahyu 17). Dengan demikian mereka adalah buah-buah yang kedua dan yang terakhir yang akan diambil untuk dibawa ke sidang yang sudah disucikan itu, yaitu Kerajaan itu, di mana tidak lagi terdapat dosa ataupun ketakutan terhadap bela-bela Babilon yang jatuh menimpa mereka (Wahyu 18 : 4).

Maka sekarang, oleh karena dalam perkembangan sejarahnya perempuan itu melambangkan setiap dinas kependetaan yang berikutnya, maka pada waktu naga itu murka terhadap perempuan itu, ia tak dapat tiada harus melambangkan dinas kependetaan terpilih yang terakhir, yaitu mereka yang 144.000 itu, yang akan menghantarkan semua saudaranya keluar dari segala bangsa menuju ke "bukit kesucian Yerusalem" (Yesaya 66 : 20) kepunyaan Allah.

Dengan terang ini yang menerangi masalah itu, maka kebenarannya terlihat jelas bahwa sesudah bumi menelan air bah itu, sesudah malaikat-malaikat memisahkan orang-orang jahat ("lalang-lalang", "lkan yang jelek") di dalam sidang, dan menghantarkan orang-orang benar ke Gunung Sion ("lumbung itu", keranjang-keranjang itu" --- Matius 13 : 30, 48), maka naga itu akan murka terhadap perempuan itu (hamba-hamba Allah), dan sebagai akibatnya ia akan memerangi benihnya yang sisa (buah-buah kedua itu, yaitu mereka yang kemudian akan dipanggil keluar dari Babilon --- Wahyu 18 : 4).

"Di akhir zaman," demikian kata Mikha dalam ramalannya mengenai waktu di mana buah-buah pertama itu berdiri bersama-sama dengan Anak Domba di atas Gunung Sion, dan di mana buah-buah kedua itu meninggalkan Babilon pergi ke Gunung Sion, akan jadi kelak, bahwa gunung rumah Tuhan akan diperdirikan pada puncak gunung-gunung, dan ia itu akan ditinggikan melebihi segala bukit; maka banyak orang akan mengalir datang kepadanya.

"Maka banyak bangsa akan datang, dan mengatakan: Datanglah, dan marilah kita naik ke gunung Tuhan itu, dan ke rumah Allah Yakub itu; maka Ia akan mengajarkan kepada kita segala jalan-Nya, dan kita akan berjalan di dalam segala langkah-Nya; karena hukum akan terbit dari Sion, dan firman Tuhan dari Yerusalem.

"Maka la akan mengadili di antara banyak bangsa, dan menghukum bangsa-bangsa yang kuat yang jauh-jauh; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi penggali, dan tombak-tombaknya menjadi sabit; bangsa tidak akan mengangkat pedang melawan bangsa, mereka tidak lagi belajar perang-perangan. Melainkan mereka akan duduk masing-masing di bawah pokok anggurnya dan di bawah pokok aranya; dan tidak seorang pun akan menakut-nakuti mereka itu; karena mulut Tuhan serta sekalian alam telah mengucapkannya." Mikha 4 : 1 - 4.

Oleh sebab itu kesimpulannya adalah, bahwa sidang Kerajaan itu harus "didirikan" sebelum iblis berbalik menghantam benih yang sisa itu, yaitu mereka yang tertinggal di belakang dan yang kemudian dihimpunkan, dan yang diserang iblis karena mereka menolak menyembahnya dalam pribadi binatang itu dan patungnya (Wahyu 13 : 15).

Dalam terang yang kumulatif ini, orang belum pernah menyaksikan sedemikian jelasnya bahwa walaupun Tuhan akan membiarkan aniaya datang kembali menimpa umat-Nya di Babilon, la akan berbuat sedemikian itu hanya untuk melaksanakan rencanaNya sendiri untuk membuat mereka itu keluar dari kekuasaan perempuan itu (sama seperti yang diperbuat-Nya terhadap umatNya yang dahulu supaya mereka itu keluar dari Mesir), dan pergi ke dalam sidang-Kerajaan yaitu satu-satunya tempat di bumi di mana tidak lagi terdapat dosa dan di mana kebinasaan bela-bela itu tidak akan menimpanya. (Baca Wahyu 18 : 4).

"Sesungguhnya kemarahan manusia itu akan memuji Dikau," ya Tuhan, dan "sisa amarah akan Engkau tahani." Mazmur 76 : 10.

Pemisahan orang-orang jahat dari antara orang-orang benar selama pengembaraan di padang belantara di zaman Musa, sebelum memasuki tanah perjanjian itu, telah dilaksanakan bukan saja bagi kepentingan sidang di waktu itu (Israel contoh) melainkan juga bagi suatu contoh teladan bagi sidang di waktu ini (Israel contoh saingan), yang secara contoh menunjukkan kepada pemisahan yang akan datang yang jelek dari antara yang baik (Matius 13 : 48) sebelum yang baik itu dibawa masuk ke dalam Kerajaan, tanah air mereka sendiri, "Iumbung itu." Matius 13 : 30. Oleh sebab itu Paulus mengatakan: "Segala perkara ini telah berlaku terhadap mereka untuk menjadi teladan-teladan; dan sekaliannya itu ada tertulis untuk menjadi nasehat bagi kita, terhadap siapa segala akhir dunia ini akan datang." 1 Korinthi 10 : 11.

Melalui amaran yang ada di sini, dari kuasa takdir yang mendesak ini, maka Tuhan kembali menghimbau kepada setiap orang percaya Kebenaran-Sekarang sebagai berikut:

"Bangunlah, bersinarlah, karena terangmu ada datang, dan kemuliaan Tuhan ada terbit atas kamu. Karena, tengoklah, kegelapan akan menutupi bumi, dan kegelapan yang pekat akan menutupi orang banyak itu; tetapi Tuhan akan bangkit atasmu, dan kemuliaan-Nya akan terlihat atas kamu. Maka orang-orang Kapir akan datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cerahnya kebangkitanmu."

"Angkatlah matamu berkeliling, dan lihatlah: semua mereka itu berhimpun bersama-sama, mereka datang kepadamu: putera-puteramu akan datang dari jauh, dan puteri-puterimu akan diasuh pada sisimu. Kemudian engkau akan melihat, dan mengalir datang bersama-sama, dan hatimu akan gentar bercampur suka-cita, karena sebab kelimpahan laut akan diubahkan kepadamu, dan tentara bangsa-bangsa Kapir akan datang kepadamu."

"Bahwa sejumlah besar unta akan menudungi kamu, yaitu unta yang pantas dari Midian dan Efah; semua mereka dari Sheba akan datang: mereka akan membawakan emas dan kemenyan; dan mereka akan memasyurkan kepujian-kepujian Tuhan. Segala domba Kedar akan dikumpulkan bagimu, segala domba jantan Nebayot akan melayani kamu: sekaliannya akan naik ke atas medzbah-Ku dengan keridlaan hati, dan Aku akan memuliakan rumah-Ku yang mulia itu."

"Siapakah mereka ini yang terbang bagaikan sebuah awan, dan seperti burung merpati ke pintu sarangnya? Sesungguhnya pulau-pulau itu akan menantikan Daku, dan kapal-kapal Tarshis pertama-tama akan menghantarkan putera-puteramu dari jauh, bersama-sama dengan perak mereka dan emas mereka, kepada nama Tuhan Allahmu, dan kepada Yang Maha Suci Israel itu, sebab la telah memuliakan kamu. Maka putera-putera orang-orang asing akan mendirikan pagar tembokmu, dan raja-raja mereka akan melayani dikau : karena dalam murka-Ku Aku telah memalu engkau, tetapi dalam perkenan-Ku Aku telah mengasihani dikau."

"Oleh sebab itu segala pintu gerbangmu akan terbuka selalu; sekaliannya itu tidak akan tertutup baik siang maupun malam; supaya dapat orang-orang menghantarkan kepadamu segala tentara bangsa-bangsa Kapir, dan supaya raja-raja mereka itu dapat dibawa. Karena bangsa dan kerajaan yang tidak mau melayani dikau akan binasa; bahkan bangsa-bangsa itu akan ditumpas habis." Yesaya 60 : 1 - 12.

Demikianlah, Saudara-Saudara Laodikea yang kekasih, adalah cukup jelas, bahwa "sementara pemeriksaan hukum berlangsung di dalam sorga, sementara dosa-dosa orang-orang percaya yang bertobat disingkirkan dari dalam tempat kesucian itu, akan ada suatu pekerjaan pembersihan khusus pembuangan dosa, di antara umat Allah di bumi." --- The Great Controversy, p. 425.

Kemudian, "dengan berpakaikan senjata kebenaran Kristus, sidang akan memasuki peperangannya yang terakhir. Indah bagaikan bulan, cerah bagaikan matahari, dan hebat bagaikan suatu bala tentara dengan panji-panjinya, ia akan keluar ke dalam seluruh dunia dengan kemenangan dan untuk memenangkan." --- Prophets and Kings, p. 725. Pada waktu itu "hanya orang-orang yang telah bertahan melawan cobaan dalam kekuatan Dia Yang Maha Kuasa itu yang akan diijinkan mengambil bagian dalam memberitakannya (Pekabaran Malaikat Yang Ketiga) apabila ia itu kelak berkembang menjadi seruan keras." --- The Review and Herald, No. 19, 1908.

Sebagai sebuah obor yang bernyala-nyala di dalam kegelapan malam, muncul berdiri kebenaran, bahwa masa kesukaran yang sedemikian itu belum pernah ada sebelumnya, akan menemukan sidang bebas dari kebanjiran lalang-lalang, bebas dari "ikan-ikan yang jelek," sehingga akhirnya bukan saja mampu tahan menghadapi Iblis, melainkan juga untuk pergi keluar dengan kemenangan dan untuk memenangkan lagi dalam kuasa kekuatan Mikhail, Yang berdiri-Nya itu akan melepaskan "setiap orang yang akan ditemukan namanya tercatat di dalam kitab." Daniel 12 : 1.

Dari ulangan sejarah umat Allah yang panjang ini kita saksikan, bahwa Ibrahim adalah satu-satunya orang, terhadap siapa Allah tidak pernah memaksa untuk memperoleh hasil-hasil yang diingini, dengan menggunakan sesuatu selain dari perintah sederhana yang mengatakan: "Keluarlah kamu dari negerimu, dan dari bangsamu, dan dari rumah bapakmu, pergi ke suatu negeri yang akan Ku-tunjukkan kepadamu.” (Kejadian 12 : 1).

Kepatuhan dan kesetiaan iman Ibrahim dan penurutannya tanpa ragu-ragu kepada perintah Tuhan yang sederhana dalam setiap kesempatan, telah membuatnya menjadi seorang "teman Allah," "bapa dari segala orang beriman," dan sebuah tonggak besar kebenaran yang hidup, dengan sebuah nama untuk dikenang dan dipuja sepanjang masa.

Iman Yakub kepada janji-janji Allah, dan kerinduannya yang kuat untuk mempekerjakan dirinya ke dalam rencana-rencana Tuhan dan untuk melaksanakannya, berhasil dengan dirinya menjadi leluhur dari pada buah-buah pertama atau dinas kependetaan sidang-Kerajaan itu --- yaitu mereka yang akan berdiri bersama-sama dengan Anak Domba itu di Gunung Sion (Wahyu 14 : 1).

Kesetiaan Yusuf tanpa mengenal kompromi kepada prinsip yang telah menghantarkan dia ke dalam kedudukan yang tertinggi, dalam mana ia telah menjadi penyedia kebutuhan dunia yang terbesar, sebagai contoh dari Kristus, Penyedia Kerohanian yang Besar itu.

Musa, dalam kelemah-lembutannya (kesederhanaan) dan dalam tekadnya "untuk lebih baik menderita sengsara bersama-sama dengan umat Allah dari pada menikmati kepelesiran dosa untuk sementara" (Iberani 11 : 25), telah bangkit menjadi jenderal yang terbesar, pemimpin, dan penyelamat dari segala zaman, dan bahkan berdiri pada gunung tranfigurasi.

Pengorbanan hidup rasul-rasul bagi kepentingan Kristus dan Kebenaran-Nya telah memenangkan bagi mereka kehormatan yang tinggi yaitu nama-nama mereka ditempatkan pada landasan-landasan Kota Suci (Wahyu 21 : 14).

Keberanian Luther dan usaha-usahanya yang tekun untuk mengangkat Kebenaran yang telah diinjak-injak itu (Daniel 8 : 11, 12; 11 : 31), telah melahirkan faham Protestantisme.

Namun demikian Saudara, Saudariku, tidak satu pun kedudukan-kedudukan tunggal yang mulia ini akan lebih besar daripada kedudukanmu berdiri bersama-sama dengan Anak Domba di Gunung Sion. Oleh sebab itu, kami menghimbau anda, supaya "bangunlah, bercahayalah; karena terangmu ada datang!" Yesaya 60 : 1.

Kini bahwa di satu pihak Tuhan sedang menghimbau agar supaya anda berpegang pada terang Kebenaran-Nya yang penuh kuasa itu dan olehnya memisahkan diri dari dosa, supaya anda dapat melepaskan diri dari pada pembalasan-Nya, diluputkan dari kesusahan besar yang akan datang, dan memperoleh bagian dalam memberitakan Seruan Keras dari Pekabaran Malaikat Yang Ketiga itu; dan bahwa di lain pihak Setan sedang menghimbau agar anda berpegang pada alat pembasminya yang mematikan itu; anda sedang dibawa ke lembah keputusan itu. Kini telah sampai saat yang menentukan itu, untuk memutuskan apakah anda mau ataukah tidak, sekiranya Tuhan itu Allah ikutilah Kebenaran-Nya yang penuh kuasa itu, atau sekiranya Baal itu Allah ikutilah orang-orangnya yang berkuasa itu.

Juruselamat mengatakan: "Tengoklah, Aku berdiri di muka pintu, dan mengetok. Jika seseorang mendengar suara-Ku, dan membuka pintu, Aku akan masuk kepadanya, dan Aku akan makan bersamanya, dan ia dengan Aku." Wahyu 3 : 20.

Maukah anda berbuat seperti orang-orang yang setia di masa lalu itu, lalu menjadi orang-orang besar milik Allah di waktu ini? Saudara, Saudariku, jangan lagi membiarkan apapun berkompromi dan menetralisir segala usahamu untuk mendapatkan janji itu sekarang --- yaitu kesempatan istimewa yang tak ada bandingannya untuk menjadi imam-imam dan raja-raja di Sion.

"Barangsiapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh .....”  Wahyu 3 : 22.


 

***