BETAPA PENTINGNYA WAKTU

 

Pengkhotbah 9 : 10, 11:
"Apa pun yang dijumpai tanganmu untuk berbuat, lakukanlah itu dengan semua kemampuanmu, karena tidak ada pekerjaan apa pun, juga tidak ada alat, juga tidak ada pengetahuan, juga tidak ada kepintaran, di dalam kubur kemana kamu pergi. Aku kembali, lalu kulihat di bawah matahari, bahwa perlombaan itu bukan lagi yang cepat, juga perjuangan itu bukan bagi yang kuat, roti itu juga bukan bagi yang bijaksana atau pun kekayaan bagi orang-orang yang berpengetahuan, juga perkenan bukan bagi orang-orang yang ahli ; melainkan waktu dan kesempatan berlaku bagi semua."

Apa pun kewajiban yang kita terpanggil untuk melakukan, kita harus melaksanakannya dengan rajin dengan 100 persen kemampuan kita untuk menyelesaikannya tepat pada waktunya. Anda semua sudah mendengar yang dikatakan banyak sekali, bahwa "jika sesuatu perkara pantas untuk dilakukan semua, maka ia itu pantas dilakukan dengan benar." Bahkan sekalipun ia itu dilakukan dengan sempurna, sekiranya ia itu dilakukan terlambat, maka ia itu tidak akan bernilai apa pun; maka apa saja yang tidak kita selesaikan ia itu akan tidak terselesaikan selamanya sejauh yang berkaitan dengan kita.

Pengkhotbah 9 : 11:
"Aku kembali, lalu kulihat di bawah matahari, bahwa perlombaan itu bukan bagi yang cepat, juga perjuangan itu bukan bagi yang kuat, roti itu juga bukan bagi yang bijaksana atau pun kekayaan bagi orang-orang yang berpengetahuan, juga perkenan bukan bagi orang-orang yang ahli; melainkan waktu dan kesempatan berlaku bagi semua."

Setiap orang mempunyai waktu. Setiap orang mempunyai kesempatan. Pemenang perlombaan adalah bukan hanya menang karena ia telah lahir untuk cepat, melainkan karena menggenapi waktu dan kesempatan dalam hidupnya. Ia itu bukan dengan sendirinya baginya untuk memenangkan perlombaan. Baginya untuk menang ia pertama sekali harus memanfaatkan waktu yang diperlukan untuk menyesuaikan dirinya bagi perlombaan itu, dan kemudian datang kesempatan untuk berlomba. Prinsip yang sama ini juga berlaku pada setiap lapangan usaha. Orang harus pertama sekali belajar menyesuaikan diri bagi tugasnya selagi ia memiliki waktu untuk melakukannya, dan kemudian datang kesempatannya untuk mendemonstrasikan atau memanfaatkan apa yang telah dipelajarinya. Jadi, orang yang berhasil memanfaatkan dengan baik waktunya dan kemudian melihat lalu memanfaatkan dirinya untuk melayani apabila kesempatannya terbuka. Sebagai contoh, Abraham Lincoln, dalam waktu senggangnya ia belajar untuk menjadi Presiden negeri ini, dan dengan demikian pada waktu kesempatan baginya terbuka ia telah siap untuk mengisi jabatan itu secara terpuji. Untuk mencapai sukses dalam apa saja orang harus memulai dengan cara menguasai asas-asas yang paling mendasar lalu kemudian bertahan maju secara langkah demi langkah.

Orang-orang jujur yang berhasil memperoleh kekayaan bukan memperolehnya karena mereka secara alami mengetahui banyak atau secara alami cukup ahli. Itu adalah karena mereka memanfaatkan dengan baik waktu maupun kesempatannya. Mereka juga telah membenahi usaha yang perlu untuk memperlengkapi dan melatih dirinya untuk berhasil apabila kesempatan baginya terbuka. Orang-orang yang tidak memanfaatkan dengan baik waktu mereka tidak mungkin dapat hidup dengan berhasiI.

Tidak seorang pun dapat menceritakan apa artinya listrik itu. Dan bagaimana mengenai waktu? Apakah waktu itu? -- Tidak seorang pun disini yang mengetahui.

Pada mula pertama, "malam dan pagi telah merupakan hari yang pertama." Hari adalah suatu takaran waktu, dan Allah yang menciptakannya. Sebagaimana anda ketahui, hari itu terdiri dari dua puluh empat jam. Jam hanya merupakan suatu takaran waktu yang lebih pendek. Karena bumi hanya dapat menakar dua puluh empat jam pada setiap kali ia berputar pada porosnya, maka sebagai satu-satunya sarana pengukur waktu yang dimiliki bumi ialah perputarannya pada porosnya dan peredarannya melalui orbitnya. Adakah anda menyadari bahwa sekiranya ia itu bukan karena hal ini kita akan berada tanpa waktu? Sebaliknya, ia itu akan merupakan kekekalan. Oleh sebab itu kekekalan tidak memiliki waktu apa pun. Waktu adalah diciptakan. Daniel menunjuk kepada "waktu, waktu-waktu, dan setengan  waktu" yang menjelaskan apa arti dari waktu itu. Itu adalah suatu rentangan yang diukur oleh kelengkapan dari suatu peredaran bumi yang penuh pada orbitnya. Itu adalah satu waktu. Terulangnya kembali peredaran akan menjadi waktu-waktu. Jadi apakah kekekalan itu? Kekekalan tidak memiliki ukuran apa pun, karena ia itu tidak pernah mengulangi dirinya seperti haInya tahun-tahun. Waktu diberikan kepada kita supaya dapat kita mengetahui bagian kekekalan yang bagaimana manusia berada di bumi ini.

Yang manakah menurut pendapat anda lebih penting, waktu ataukah kekekalan? --- Waktu ialah segala-galanya, karena tanpa waktu tidak akan ada kekekaIan; bahkan kekekalan adalah bukan waktu karena ia itu tidak dapat diukur. Waktu yang dihemat adalah bahkan lebih penting daripada uang yang dihemat, karena anda tidak dapat menghemat uang jika anda tidak menghemat waktu.

Jika bumi, melalui gerakannya yang tetap dan lokasinya yang berubah di dalam alam semesta, menunjukkan waktu, maka segala-galanya dapat saja menunjukkan waktu. Tanaman-tanaman menunjukkan waktu, karena anda dapat menceriterakan melalui ukuran batangnya berapa umur sesuatu tanaman. Dalam bentuk lain manusia yang juga menunjukkan waktu. Pohon-pohon menunjukkan waktu melalui pertumbuhannya. Alkitab menunjukkan waktu, karena ia itu membutuhkan waktu bagi manusia untuk hidup sepanjang sejarah yang dicatatnya, untuk menulisnya, untuk mencetaknya, untuk menghasilkan kertas pada mana Alkitab itu dicetak dan mesin-mesin yang mencetaknya, untuk menumbuhkan dan memproses bahan bagi penjilidannya, - - semuanya itu menunjukkan waktu. Upah-upah pekerja menunjukkan waktu yang dibayar dalam bentuk uang. Tidak satupun emas atau berlian dapat diperoleh tanpa menunjukkan unsur waktu yang ada baik dalam bahan-bahan dagangan itu sendiri maupun kembali dalam uang yang diberikan orang sebagai pengganti untuk mendapatkannya.

Dari pembicaraan ini anda dapat melihat, bahwa waktu adaIah berkaitan penting dengan materi sekalipun ia itu tidak tampak. Adalah jauh lebih penting menghemat waktu, karena waktu adalah tak ternilai harganya; ia itu sama dengan penyelamatan. Tetapi kenyataan yang menyedihkan ialah hanya sedikit orang yang menyadari betapa berharganya waktu. Mengingat betapa besarnya nilai dari waktu, maka membuang-buang waktu tak dapat tiada merupakan dosa. Namun kepada semua orang telah diberikan waktu dan kesempatan.

Dalam seratus tahun terdapat kira-kira 36.500 hari. Menurut pendapat umum jumlah itu daIam dollar adaIah tidak banyak, karena pada waktu ini uang diukur dengan milyaran dollar. Tetapi masa hidup seseorang pada kenyataanya adalah sangat singkat, dan terdiri dari tiga periode: masa kanak-kanak, masa dewasa yang paling baik, dan masa tua. Biasanya daIam periode usia dewasa yang paling baik orang akan sangat produktif, dan karena ia itu hanya sebagian dari masa hidupnya, maka ia seharusnya jangan sekali menyia-nyiakan semenit pun dari waktu itu.

Kita hendaknya melihat bahwa kita memperoleh 100 persen nilai dari setiap menit yang kita hayati. Untuk menghabiskan ini kita harus menyimpan tenaga kita dengan cara menghapuskan usaha yang tidak perlu dan tidak bermanfaat. Dengan cara itu ketahanan kita diperpanjang dan kita benar-benar dapat menghabiskan lebih banyak lagi. Karena berbicara itu membutuhkan waktu dan usaha, misalnya, maka kita hendaknya menghindari pembicaraan yang tidak berguna, laIu belajar memperhitungkan setiap perkataan bagi yang baik-baik saja. Waktu yang hilang tidak pernah dapat ditemukan kembali tanpa menghiraukan bagaimana kita tadi menyia-nyiakannya. Ia itu lenyap untuk selamanya. Oleh sebab itu betapa mahalnya waktu, bukan?

Kita barangkali harus menanyakan kepada diri sendiri pertanyaan ini lebih sering daripada pertanyaan lainnya: Adakah saya sedang melakukan sesuatu sekarang yang akan saya sesalkan dalam kekekalan? Dan sekiranya kita sedang melakukannya, maka kita hendaknya segera mulai menggantikan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna itu dengan mengejar perkara-perkara yang patut. Tugas besar orang Kristen ialah menyelesaikan perkara-perkara yang dikehendaki Allah. Dengan berbuat demikian itu kita akan menjadi kaya dalam satu dan lain hal. Sekiranya seseorang kemudian merampok kita, maka Allah akan menggantikannya bagi kita. Benar, tidak seorang pun dapat menipu kita jika kita melibatkan diri dalam melaksanakan perkara-perkara yang dikehendaki Allah. Tetapi orang yang cenderung hanya kepada kepentingan-kepentingannya sendiri sesungguhnya tidak pernah berhasil terlalu jauh, terutama apabila penyelesaian-penyelesaiannya dinilai dalam terang dari kekekalan. Maka "tak ada batasnya kebaikan yang dapat dibuat oleh seseorang kalau saja ia tidak menghiraukan siapa pun yang akan dihargai."

Kesempatan ialah apa yang menghantarkan kepada kita kekekalan. Oleh sebab itu, jika kita memanfaatkan waktu dan kesempatan dengan baik, maka kita tidak perlu ragu terhadap kekekalan.

Adakah anda menyadari, bahwa waktu dan kesempatan diberikan kepada masing-masing kita, dan bahwa jika kita ingin berhasil sekarang dan di kemudian hari, kita harus sebijaksana mungkin menginvestasikan waktu kita seperti halnya kita menginvestasikan uang kita? Adakah anda seorang yang suka memboros waktu ataukah seorang yang ketat waktu? Adakah anda kebetulan berada, ataukah anda sedang bersiap-siap menghadapi "kesempatan" anda yang besar? Masing-masing harus menjawab pertanyaan ini bagi dirinya, Tak lama lagi bahwa kesempatan besar akan datang kepada setiap jiwa, maka apabila kesempatan itu datang ia itu akan membuktikan kesetiaan atau ketidak-setiaan penatalayanan kita atas waktu yang telah diberikan kepada kita untuk bersiap-siap menghadapinya. Sementara anda berdiri sekarang, adakah anda siap?

''Waktu kita adalah kepunyaan Allah. Setiap saat adalah milikNya, dan kita berkewajiban dengan sungguh-sungguh untuk memperbaikinya bagi kemuliaan Allah. Tidak ada talenta yang telah dikaruniakan-Nya yang akan dituntut-Nya untuk dipertanggung jawabkan dengan lebih ketat daripada talenta waktu yang ada pada kita.


 

********

 

"……. Kita secara pribadi akan diminta mempertanggung jawabkan setiap perbuatan yang kurang daripada kemampuan yang ada pada kita untuk melaksanakannya. Tuhan mengukur dengan tepat setiap kemungkinan untuk melayani. Kemampuan-kemampuan yang tidak dimanfaatkan adalah sama dipertanggung jawabkan seperti halnya kemampuan-kemampuan yang diperbaiki. Allah menuntut tanggung jawab kita untuk semua yang dapat kita lakukan melalui pemanfaatan talenta-talenta kita yang benar. Kita akan diadili sesuai apa yang harus sudah diselesaikan, tetapi tidak selesai karena kita tidak memanfaatkan kemampuan kita untuk memuliakan Allah. Bahkan sekiranya kita tidak kehilangan jiwa-jiwa kita sekalipun, kita kelak akan menyadari dalam kekekalan akan akibat dari talenta-talenta kita yang tidak dimanfaatkan. Karena semua pengetahuan dan kemampuan yang seharusnya dapat dicapai tetapi tidak, akan merupakan kerugian yang kekal.

 

* * * *

 

"Apa pun bidang pekerjaan dimana kita terlibat di dalamnya, firman Allah mengajarkan kepada kita supaya 'jangan bermalasan dalam pekerjaan; bersungguh-sungguh dalam semangat; sambil berbakti kepada Tuhan.' 'Apa pun yang ditemukan oleh tanganmu, lakukanlah itu dengan seluruh kuatmu,' sambil ingat bahwa dari Tuhanlah engkau akan memperoleh pahala warisan: karena engkau melayani Tuhan Kristus.'" -- Christ's Object Lessons, (1941 edition) pp. 342, 365, 349.

Pada hari apabila kita harus mempertanggung jawabkan penatalayanan kita, KITA AKAN MAMPU MEMPERTANGGUNG JAWABKAN DENGAN BAlK SETIAP TALENTA YANG LAIN YANG DIPERCAYAKAN KEPADA KITA JIKA DAPAT KITA MENUNJUKKAN, BAHWA KITA SUDAH MEMANFAATKAN DENGAN SANGAT BERHASIL WAKTU KITA. Itu berarti betapa pentingnya waktu. Kiranya Allah membantu masing-masing kita untuk menjadi penabung-penabung waktu yang bijaksana.


 

*****