SEBUAH JABATAN BAGI SETIAP
TAMMATAN KEPENDETAAN


 

Belum pernah awan-awan peperangan bergantungan menudungi dunia sedemikian gelap dan aneh dalam suatu puncak petir yang murka, dan belum pernah dunia menyaksikan dirinya sendiri seperti yang disaksikannya sekarang. Dimana-mana, -- dalam pemerintahan, dalam industri, di dalam aula-aula belajar, di dalam gereja-gereja, di dalam rumah-rumah, di jalan-jalan – dalam setiap perjalanan hidup, pertanyaan yang banyak dikemukakan orang adalah : Hendak kemanakah manusia?

Dari para juru bicara jurnalistik dan ilmu pengetahuan yang ulung muncul ucapan-ucapan yang umumnya diucapkan orang sedemikian ini sebagai berikut :

" ..... Bagaimanakah ceritera mengenai Manusia ? Ia itu adalah, bahwa orang-orang mati, Manusia bertahan. Pada waktu ini sudah dapat diperkirakan, bahwa manusia sudah makin mendekati segala puncak kengerian yang terhebat, yang telah mereka datangkan atas dirinya sendiri dalam sejarah perjuangannya yang panjang. Jika puncak itu datang, ia itu akan merubah kehidupan dan merubah dunia. Namun ia itu tidak akan menamatkan kehidupan, ia itu tidak akan membinasakan dunia. Pada puncak yang tertinggi ini, atau barangkali dalam prospeknya, manusia pada akhirnya mungkin menemukan rahasia kedamaian dan jalan untuk hidup tanpa kebinasaan. Itulah sebuah harapan. Kepastiannya ialah, bahwa Manusia akan berada di bumi, sambil membentuk sebuah dunia." --- Life, October 3, 1949, p. 22.

" ..... Einstein ..... setuju ..... bahwa bangsa-bangsa lain dapat menemukan kembali berbagai proses kita yang rahasia oleh usaha mereka sendiri; bahwa tidak ada pertahanan militer dapat diharapkan dan kesiapan adalah sia-sia; bahwa jika sesuatu perang yang lain lagi pecah, maka bom-bom atom pasti akan menghancurkan peradaban manusia ..... "

"Katanya selanjutnya: 'Adalah penting untuk menerangi pendapat umum mengenai keadaan yang sebenarnya dari hal bom itu. Hanya pencegahan perang oleh tindakan pada suatu skala internasional yang akan membuat persiapan bagi peperangan itu menjadi tidak perlu dan juga tidak mungkin, yang dapat menyelamatkan kita daripada akibat-akibatnya.'" -- Newsweek, March 10, 1947, p. 58.

"..... Sejarah, pada daerah-daerah dunia yang luas, telah berulang kembali. Fanatisme telah menggantikan akal sehat; teror menggantikan kompromi; kebencian menggantikan persahabatan. Ilmu pengetahuan, pendidikan, dan falsafah, sebagai kendaraan-kendaraan kemajuan yang menuju ke manusia Barat telah dikacaukan, diputarbalikkan dan dibentuk kembali menjadi senjata-senjata melawan peradaban." --- John Edgar Hoover, dalam sebuah laporan yang dikirim oleh the Federal Bureau of Investigation.

"Perang Dunia Pertama merupakan suatu goncangan yang pasti terhadap masa periode optimisme sebelumnya, ..... Pada waktu ini kegoncangan itu adalah hampir luar biasa besarnya. Kekacauan dan pertikaian adalah begitu umum sehingga sikap yang ada dimana-mana pada waktu ini adalah sesuatu kegelisahan dan pesimistik yang tidak menentu." --- John Dewey, Reconstruction in Philosophy, p. 8.

"Hanya ada terlalu banyak alasan untuk takut, bahwa peradaban Barat, kalau bukan seluruh dunia, akan mungkin dalam waktu dekat memasuki suatu masa periode yang penuh kesedihan, penderitaan, dan sakit ..... " --- Bertrand Russel on the subject "If We Are to Survive This Dark Time”  in the New York TIMES magazine, September 3, 1950.

"Kini kita telah sampai pada tahap terakhir dalam sejarah. Apa yang pada akhirnya diminta dari kita akan diminta sekarang dari kita ..... Adalah sangat terlambat. Barangkali tidak ada apa-apa lagi yang dapat menyelamatkan kita. Tetapi tulisan tangan pada tembok itu adalah cukup jelas. Ia itu mengatakan kepada semua penduduk bumi: 'Bergabunglah atau mati.'" -- Dr. Robert M. Hutchins.

"Setiap orang mengakui, bahwa suatu perang atom ialah pembunuhan diri seluruh dunia; sehingga tidak seorangpun dapat menang. Tidak seorang pun ilmuwan terkenal dapat meragukan kenyataan, bahwa setiap negara yang berkemampuan industri dapat memiliki bom atom dalam jangka waktu lima tahun. Oleh sebab itu, kita hanya memiliki lima tahun untuk membangun bagi perdamaian.” --- Dr. Robert M. Hutchins, Chancellor of Chicago University, in Chicago Daily Tribune, March 26, 1946.

"Tidak dapat diragukan lagi mengenai krisis dunia. Kita sedang hidup pada salah sebuah dari kelokan-kelokan sejarah itu yang menawarkan dua jalan, salah satunya menghantarkan kepada-kematian dan yang lainnya kepada kehidupan.”

Kenyataannya ialah, bahwa bom H melambangkan kemenangan pembunuhan diri umat manusia yang terakhir, pengungkapan rahasia-rahasia alam yang terdalam bagi maksud-maksud penghancuran yang total. Ia itu memfokuskan secara mutlak kepada kegagalan peradaban materialistis yang berusaha mengorganisir hidupnya terpisah dari Allah." --- G. Ashton Oldham, formerly bishop of the Episcopal Diocese of Albany, on "The Word Crisis and the Future," in the bullettin of the Church Peace Union for June.

"Orang-orang sedang menemukan suatu keanehan yang menakutkan yang sudah memasuki kehidupan, bahkan orang-orang yang tidak setia sedang menghianati, oleh berbagai serangan tiba-tiba dan kejutan-kejutan, suatu mujizat tertentu, suatu penyusutan, perasaan buronan bahwa sesuatu sedang terjadi sehingga kehidupan tidak akan pernah sama keadaannya."

"Sebarkan dan periksalah pola peristiwa-peristiwa itu, dan engkau akan menemukan dengan mata kepala sendiri sesuatu rencana baru, yang sampai kepada hari ini belum terbayangkan oleh pikiran manusia ..... "

"Para penulis sadar bahwa tidak ada jalan keluar, sekeliling ataupun melalui jalan buntu. Itulah akhirnya." --- H. G. Wells, Los Angeles Examiner, October 21, 1945.

Dalam pemikiran yang seksama dari para pengamat masalah-masalah ini, generasi ini sudah sampai pada jam peradabannya yang terakhir (zero hour). Apakah kita menyadarinya atau tidak, hari kiamat itu sudah dekat sekali, dan kita sedang berhadapan muka dengan berbagai isu yang sangat tiba-tiba yang pernah menantang suatu generasi manusia. Kepala-kepala peluru born atom, roket-roket yang mematikan, gas beracun, berbagai bom kuman, kapal-kapal selam raksasa yang menembusi segala kedalaman lautan, dan pesawat-pesawat terbang supersonik yang menusuk melewati angkasa di atas, --- apakah artinya semuanya ini berikut semua senjata pembinasa lain yang mengerikan itu? Apakah yang ditandai oleh tanda-tanda zaman ini bagi Gereja dan bagi seluruh dunia? Sekiranya pertanyaan ini dilontarkan kepada sesuatu generasi di zaman para nabi Allah dahulu, maka tanpa ragu-ragu mereka sudah akan menjawab: "Karena Gereja hidup, dan karena adalah pasti bahwa Allah hidup, maka tidaklah mungkin Ia membiarkan umatNya dalam kegelapan mengenai tanda-tanda zaman mereka." Dan jawaban mereka tentunya harus juga merupakan jawaban kita. Lagi pula itu pun merupakan bukti dengan sendirinya, bahwa jika kita hendak mengetahui, Allah akan memungkinkan kita mengetahui arti yang sebenarnya dari perkara-perkara penghancur yang belum pernah ada ini.

Dari munculnya semua ini banyak sekali tampak dengan jelas: Jika bom-bom unggul itu berikut pembom-pembom unggul dan segala-galanya yang lain tidak mengandung makna lainnya, maka sekaliannya itu tak dapat tiada mengancam peradaban. Gambaran sederhana mengenai akibat-akibat pemakaiannya yang menghancurkan dan yang merusak moral akan diperoleh dari gambaran kehancuran yang terlukis pada halaman depan.

Juga nyata, ialah kepastian bahwa Sorga telah membiarkan semua peralatan penghancur ini datang untuk membangkitkan dunia Kristen, baik kependetaan maupun keanggotaannya, kepada suatu tindakan penuh yang terkonsentrasi dan diterangi sementara Tuhan memimpin ke depan untuk menyelamatkan manusia daripada dirinya sendiri, dan dari Iblis. Karena Kristen melalaikan tugas ini, dan membiarkan dunia menyelamatkan dirinya sendiri sekuat tenaganya, maka Musuh itu akan segera menghapuskan, bukan hanya pengetahuan akan Allah dan penyelamatan, melainkan juga akan peradaban itu sendiri. Sesungguhnya setiap pengamat yang terbuka matanya dapat jelas melihat perbedaannya, bahwa sementara Sorga dan bumi dengan letih menunggui orang-orang Kristen untuk bertindak melawan semua kepalsuan, kuasa yang jahat itu menyebarkan suatu pengaruh yang sangat melemahkan melalui pria dan wanita yang tidak mengenal Kristus sedemikian ini, bagaikan membawa obor komunisme yang merah.

Memang, seram gambarannya. Dan bahaya yang sebenarnya daripadanya itu melemparkan tantangannya terhadap dunia Kristen secara keseluruhan. Apakah yang harus kita perbuat terhadapnya? Terus menutup matakah terhadapnya? Ataukah bangkit menghadapinya, lalu menjadi Nuh-Nuh, Gideon-Gideon, Daud-Daud, Eliyah-Eliyah, Daniel-Daniel, Luther-Luther, dan semua yang sedemikian ini dengan sesuatu iman untuk berbuat sesuatu terhadapnya selagi terang masih bercahaya dan selagi kesempatan masih ada pada kita? Hendakkah kita menyimpan saja dalam hati kebenaran yang tragis itu, bahwa "dosa dunia yang tidak bertobat terletak pada pintu sidang?” --- The Great Controversy, p. 389. Maukah kita semua menyambut ucapan yang tertinggi, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi, dan damai di bumi, sejahtera bagi semua orang" (Lukas 2 : 14), sebagai harapan yang tertinggi dan kewajiban dari Sidang melebihi Negara? Negeri kita dan seluruh dunia membutuhkan Sidang, dan Allah sedang menunggu anggota-anggotanya, baik para anggota biasa maupun pihak pendeta untuk "bangun, bercahaya." Yesaya 60 : 1.

Setiap Kristen yang benar-benar mengetahui bahwa Injil "adalah kuasa Allah bagi penyelamatan," mengetahui bahwa jika massa orang banyak bertobat kepada Kristus, maka tidak akan ada, memang tidak mungkin ada, sesuatu kekuatan Komunis ataupun totaliter yang agresif di dunia ini, dan karena sebab itulah tidak akan ada ancaman yang sedemikian seperti halnya Komunis militan yang ada sekarang mengancam peradaban manusia. Dan setiap Kristen juga tahu, bahwa tidak ada kekuatan apapun di bumi selain dari "pedang dari Roh," yang dapat memenggal kepala Goliath masa kini. Jadi, alangkah menyedihkan dan betapa penakutnya untuk dipercaya, sekiranya Sidang tidak segera mengalihkan dari pundak-pundak Negara bagiannya sendiri yang dilalaikan, yang merupakan bagian terbesar tanggung jawabnya menciptakan perdamaian, tetapi terus membiarkan Pemerintah memikul seluruh beban dan berbuat sekuat tenaganya tanpa penerangan Ilahi dan tanpa kuasa yang hanya dapat diberikan oleh Sidang.

Dalam mendesak keluar sidang dari hampir seluruh negara yang dikuasai Komunis, Musuh telah mencuri suatu kemajuan dan kemenangan yang lama atasnya, dan ia kini sedang memeranginya dengan kejam untuk memperluas sampai mencapai kemenangan terakhir dalam mendesaknya keluar dari permukaan bumi. Namun masih ada harapan kalau saja ia mau dengan kesetiaan yang berani menyambut perintah Ilahi yang kini didengungkan kepada setiap pembela iman sebagai berikut:

"Bangun, bangun, karena terangmu ada datang, dan kemuliaan Tuhan sudah naik atas kamu. Karena, bahwasanya, kegelapan akan menutupi bumi, dan kegelapan yang pekat menudungi orang banyak, tetapi Tuhan akan bangkit atas kamu, dan kemuliaanNya akan terlihat di atasmu. Maka orang-orang Kapir akan datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cerahnya kebangkitanmu." Yesaya 60 : 1 - 3.

Dalam perjalanan manusia yang keranjingan kekuasaan, yang memerintah atau menghancurkan, yang cenderung perang dan cenderung celaka, yang suka merusak diri sendiri, dalam pergolakan-pergolakan hangat dan penuh bencana dan pecahnya berbagai unsur-unsur alamiah, dan dalam kegenapan kumulatif nubuatan-nubuatan di dalam Firman Allah yang terus terungkap dengan cepatnya, maka tanda-tanda zaman membunyikan dengan keras imbauan amarannya agar kita bangun di bawah terang Allah, dan bergegas-gegas menyelamatkan umatNya dari berbagai penyakit yang mengancam hendak menghancurkan dunia. Jika yang sedemikian ini bukan merupakan misi dan tugas besar dari Sidang pada jam yang berbahaya sekarang ini, maka apa perlunya Tuhan dan dunia berharap dari padanya (Sidang) ? Tetapi apakah yang dapat diperbuat oleh Sidang, jika para anggotanya, baik anggota biasa maupun para pemimpin, tidak bangun bersama-sama bagaikan seorang lalu menerjunkan diri ke dalam pertikaian itu ?

Karena cukup mengerti sesuai jawaban kita terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mendesak ini, maka maaf apakah yang dapat kita peroleh jika kita sekarang tidak membangunkan diri sendiri dan semua umat kesucian dalam Dunia Kristen untuk bersama-sama ikut melaksanakan apa yang diperintahkan Injil kepada kita? Tanpa menghiraukan betapapun dramatis dan mengesankan setiap demonstrasi yang dapat diperlihatkan oleh Sidang, adalah bukan lagi rahasia bahwa jika ia tidak juga didesak keluar dari setiap tempat atau negeri, tetap pada langkahnya yang sekarang memberitakan Injil Kerajaan suatu millenium sementara, maka tidak akan mencukupi baginya untuk mengamarkan dunia, menyelesaikan pekerjaan, dan mendatangkan Kerajaan itu. Maka setiap pikiran yang diterangi tahu akan hal ini sebagai kebenaran yang tidak dapat dielakkan.