BINATANG YANG MENYERUPAI
HARIMAU KUMBANG


 
 
"Maka aku berdiri di pasir di tepi laut, dan aku tampak seekor binatang buas naik keluar dari dalam laut yang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas tanduk-tanduknya itu bermahkota sepuluh, dan di atas kepala-kepalanya itu terdapat nama hojat. Dan binatang yang aku tampak itu adalah bagaikan seekor harimau kumbang, dan kaki-kakinya adalah seperti kaki beruang, dan mulutnya seperti mulut singa, maka naga itu memberikan kepadanya kuatnya, dan kedudukannya; dan kuasa besar.

"Maka aku tampak salah satu kepalanya itu bagaikan terluka yang membawa mati; tetapi luka parahnya itu sudah sembuh, dan seluruh dunia heranlah akan binatang itu. Maka mereka menyembah naga itu yang telah memberikan kuasa kepada binatang itu; dan mereka menyembah binatang sambil mengatakan, Siapakah yang sama dengan binatang itu? Siapakah yang mampu memerangi dia?

"Maka telah diberikan kepadanya suatu mulut yang membicarakan perkara-perkara besar dan berbagai hojat; maka kuasa diberikan kepadanya untuk meneruskan selama empat puluh dua bulan. Lalu ia membuka mulutnya dalam hojat melawan Allah, menghojat nama-Nya, dan tabernakel-Nya, dan semua mereka yang tinggal di dalam Sorga. Maka ia itu diberikan kepadanya untuk berperang melawan umat kesucian, dan untuk mengalahkan mereka itu; maka kuasa dikaruniakan kepadanya atas semua suku bangsa, dan bahasa, dan bangsa-bangsa. Maka semua orang yang berdiam di bumi akan menyembah dia, yaitu mereka yang nama-namanya tidak tertulis di dalam buku kehidupan dari Anak Domba itu yang terbunuh semenjak dari pembentukan dunia.

Jika seseorang memiliki telinga, hendaklah ia mendengar. Dia yang memasukkan orang ke dalam tawanan, ia pun akan masuk ke dalam tawanan; dia yang membunuh dengan pedang, tak dapat tiada ia sendiri harus juga dibunuh dengan pedang. Di sinilah terdapat sabar dan iman dari umat kesucian itu." Wahyu 13 : 1 - 10.
 
Susunan bentuk dari pada binatang ini --- mulutnya dari pada mulut singa, kaki-kakinya dari pada beruang, tubuhnya dari pada harimau kumbang, dan sepuluh tanduk --- adalah kesaksian yang jujur, bahwa ia itu adalah keturunan dari Babil (singa), Medo-Persia (beruang), Gerika (harimau kumbang) dan Romawi Kapir (sepuluh tanduk). Oleh karena binatang ini merupakan tempat mencair dari empat kerajaan dunia kuno yang lalu, maka tak dapat tiada ia berikut tujuh kepalanya dan sepuluh tanduk yang bermahkota memberikan sifat corak dari pada dunia di waktu ini.

Masa periode empat puluh dua bulan binatang itu jatuh dalam masa Romawi Agama --- yaitu kerajaan sesudah Romawi Kapir; sedangkan keadaannya yang terluka (Wahyu 13 : 3) itu adalah melambangkannya selama masa periode Protestan. Lagi pula, binatang itu melambangkan tiga masa periode, yaitu (1) masa periode sebelum keadaannya yang terluka itu; (2) masa periode selama ia terluka; dan (3) masa periode sesudah lukanya itu sembuh.   

Berikutnya simbolisasi ini menunjukkan bahwa Ilham masih tetap memperhitungkan dunia Protestan sama dengan suatu dunia Romawi. Ini kita ketahui dari beberapa segi, yang pertamanya adalah pada kenyataan, bahwa masa periode empat puluh dua bulan binatang itu adalah sejajar dengan "satu masa" (12 bulan), "dua masa" (24 bulan), "dan setengah masa" (6 bulan) dari tanduk kecil itu. Perbuatan melawan Allah dan umat-Nya di dalam kedua catatan itu adalah empat puluh dua bulan lamanya.

Tanduk-tanduk dari binatang yang tak tergambarkan itu tidak bermahkota, dan tanduk-tanduk binatang yang menyerupai harimau kumbang itu bermahkota, menunjukkan bahwa binatang yang kedua itu melambangkan dunia sesudah tanduk-tanduk yang tidak bermahkota (raja-raja yang akan bangkit -- Daniel 7 : 24) dari binatang yang terdahulu itu dimahkotai.
 
Kini, sebagaimana sudah kita saksikan, jelaslah bahwa Romawi Agama (tahap kedua dari binatang yang tak tergambarkan itu) adalah suatu kekuasaan kombinasi gereja dan negara (suatu tanduk-kepala, yang memiliki "mata manusia, dan sebuah mulut yang membicarakan perkara-perkara besar" -- Daniel 7 : 8), dan bahwa Reformasi Protestan telah memisahkan keduanya itu. Dengan demikian jika bangkit dan memerintahnya Romawi Agama itu dilukiskan oleh tanduk-kepala dari binatang yang tak tergambarkan itu, maka keruntuhannya digambarkan oleh kepala biasa yang terluka dari binatang yang menyerupai harimau kumbang, yaitu bagian tanduk (kekuasaan sipil) yang telah disingkirkan. Gereja telah ditelanjangi dari kekuasaan kedaulatannya yang telah dipakaikan oleh negara kepadanya, sehingga akibatnya maka semua pemerintahan kini lepas dari gereja, dan gereja berada di bawah kekuasaan semua pemerintah. 

Karena adalah benar bahwa kepala yang terluka itu melambangkan suatu organisasi agama, dan karena tidak ada perbedaan lahiriah di antara kepala yang terluka itu dan enam kepala yang tidak terluka lainnya, maka kebenaran yang mendasar ini menunjukkan bahwa sekalian tanduk-tanduk itu adalah melambangkan organisasi-organisasi agama. Lagi pula, karena nubuatan-nubuatan simbolis ini membicarakan Peradaban Barat, yaitu tempat tinggal dari dunia Kristen, maka kepala-kepala itu menunjukkan secara pasti sifat-sifat madzab organisasi-organisasi Kristen, sama seperti yang dilakukan oleh "tujuh sidang jemaat di Asia itu" (Wahyu 2, 3), satu-satunya perbedaan ialah bahwa sidang-sidang Asia itu mungkin meliputi suatu masa periode yang lebih panjang dari pada yang diliput oleh kepala-kepala itu.

Selanjutnya, karena luka yang membawa mati yang diperoleh binatang itu menggambarkan Romawi Kristen yang telah direndahkan sampai kepada kematian (dirampas dari kekuasaan sipilnya); maka sembuhnya kembali ia dari luka itu akan menggambarkannya ditinggikan menjadi hidup kembali (memperoleh kembali kekuasaan sipilnya). Dan karena luka itu telah ditimbulkan oleh tangan Reformasi, maka ia itu tidak akan pernah dapat sembuh sekiranya tangan itu terus saja memarangkannya dengan pedang tajam yang bermata dua itu. Oleh sebab itu, adanya penyembuhan itu jelas menggambarkan

Runtuhnya Protestantisme
Dan Bangkitnya Kelaliman (D e s p o t i s m e)


Walaupun hanya ada satu interpretasi yang benar dari setiap ajaran Alkitab, namun sejumlah besar interpretasi-interpretasi yang saling bertentangan kini terdapat di dalam dunia Kristen, sehingga akibatnya dunia Kristen telah terpecah-pecah ke dalam banyak sekte-sekte agama dan faham-faham (kepala-kepala), tanpa ada yang sama percayanya. Di dalamnya terletak kenyataan yang pasti bahwa gereja-gereja ini adalah lepas dari Roh Suci, dan mereka sedang maju terus dalam kegelapan. Oleh karena mengakui mengajarkan Kebenaran, padahal sedang mengajarkan ajaran-ajaran dan perintah-perintah manusia, maka mereka dicela oleh memiliki "nama hojat" tertulis mengelilingi kepala-kepala mereka (Wahyu 13 : 1).

Bahkan di waktu ini, dalam jam-jam penghabisan dari periode Injil, sidang mengatakan : "Aku kaya, dan telah bertambah dengan kekayaan, sehingga tidak memerlukan apa-apa lagi", -- baik kebenaran maupun nabi-nabi, -- walaupun pada kenyataannya ia adalah "tidak terkasihan, dan sengsara, dan miskin, dan buta, dan bertelanjang" (Wahyu 3 : 16, 17), dan sedang akan diludahkan keluar jika ia lalai sekarang untuk menggosok matanya dengan minyak tambahan yang segar ini dan karena tidak menghiraukan keadaannya yang tidak terkasihan itu, maka ia kini siap bukan saja untuk menolak pekabaran yang terakhir yang datang kepadanya dengan amaran-amaran dan teguran-teguran tepat sebelum hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu (Maleakhi 4 : 5), melainkan juga kembali menyalibkan Juruselamat sekiranya Ia datang secara pribadi menegurnya, sehingga dengan demikian mengulangi kembali pendurhakaannya yang dahulu, seperti yang dilambangkan oleh pukulan Musa terhadap "batu karang" sampai dua kali (Bilangan 20 : 11).

Perincian demi perincian, kepada kita sedemikian jauh telah diberikan untuk mampu melihat, bahwa sembuhnya luka itu adalah petunjuk bukan saja terhadap kegagalan sidang meneruskan Reformasi Protestan itu sampai selesai, melainkan juga terhadap pemerintahan-pemerintahan dunia yang segera akan beralih menganut prinsip-prinsip kelaliman Zaman Kegelapan yang lalu --- yaitu tata tindakan sebelum kepala binatang itu dilukai. Terulangnya kembali peristiwa yang lalu itu akan dimulai oleh 

BINATANG BERTANDUK DUA ITU.

"Maka aku tampak seekor binatang lain datang keluar dari bumi, yang bertanduk dua seperti tanduk anak domba, maka ia berbicara seperti seekor naga. Maka ia melakukan segala kuasa dari binatang yang pertama yang mendahuluinya, dan menyuruh bumi dan mereka yang tinggal di dalamnya untuk menyembah binatang yang pertama itu, yaitu dia yang luka parahnya itu telah sembuh. Maka ia melakukan berbagai keajaiban besar, sehingga ia menurunkan api dari langit ke atas bumi di hadapan mata orang-orang, maka ia menyesatkan mereka yang diam di bumi dengan keajaiban-keajaiban itu yang telah dikuasakan kepadanya untuk dilakukan di hadapan mata binatang itu; sambil mengatakan kepada mereka yang diam di bumi, bahwa mereka harus membuatkan sebuah patung bagi binatang itu yang telah terkena luka pedang, tetapi hidup.

"Maka ia memiliki kuasa untuk memberikan nafas hidup kepada patung binatang itu supaya patung binatang itu berkata-kata dan membuat seberapa banyak orang yang tiada mau menyembah patung binatang itu supaya dibunuh. Maka ia membuat sekalian orang, kecil besar, kaya miskin, merdeka ataupun hamba, supaya semuanya itu menerima suatu tanda dalam tangan mereka atau dalam dahi mereka, dan supaya tidak seorangpun dapat berjual beli, terkecuali orang yang memiliki tanda itu, atau nama dari binatang itu, atau angka bilangan dari namanya.

"Disinilah hikmat pengetahuan. Hendaklah dia yang memiliki pengertian menghitung angka bilangan binatang itu; karena itu adalah angka bilangan dari seseorang; dan bilangannya adalah enam ratus enam puluh enam." Wahyu 13 : 11 - 18. 

Kuasa yang ditunjukkan oleh binatang yang bertanduk dua ini akan memperkenalkan dirinya bersama-sama dengan "nabi palsu itu", karena bersama-sama mereka akan "dicampakkan hidup-hidup ke dalam suatu lautan api." Wahyu 19 : 20. Dari sini jelas terlihat bahwa keajaiban-keajaiban yang diperbuat binatang itu di hadapan manusia, dan olehnya ia menyesatkan mereka "yang diam di bumi" (Wahyu 13 : 13, 14), akan dibuat oleh nabi palsu itu (Wahyu 19 : 20) "di hadapan mata binatang itu". Wahyu 13 : 14. Jadi, jelaslah, bahwa kekuasaan sipil milik binatang itu, dikombinasikan dengan kekuatan gaib milik nabi itu, menunjuk kepada suatu persekutuan binatang dan nabi --- yaitu suatu gabungan negara dan wakil-wakil gereja.

Karena memiliki hanya dua tanduk, bukan sepuluh, maka binatang itu menggambarkan sebuah pemerintahan setempat, bukan pemerintahan universal sedunia. Meskipun demikian, ia akan mempengaruhi seluruh dunia Kristen untuk "membuat sebuah patung bagi binatang itu, yang pernah memiliki luka oleh pedang, tetapi hidup"; artinya, ia akan memprakasai pendirian sebuah pemerintahan sedunia, yang menegakkan kembali prinsip-prinsip pemerintahan gereja-negara dari Romawi Agama yang lalu. Karena bertindak sebagai penegak kembali prinsip-prinsip ini, maka ia bersama-sama dengan nabi itu, akan menjadi diktator utama dunia, dan akan membentuk bukan saja kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah-pemerintah di bidang agama dan politik, melainkan juga perdagangan dunia. Ia akan memutuskan "bahwa tidak seorang pun dapat membeli ataupun menjual, terkecuali orang yang memiliki tanda, atau nama dari binatang itu, atau angka bilangan namanya". Wahyu 13 : 17.
 
                                                              Gambar

Binatang ini melambangkan seseorang yang akan berdiri pada pucuk pimpinan sesuatu bangsa, dan yang pengaruhnya akan pergi jauh dan meluas di antara raja-raja di bumi. Ia selanjutnya diperkenalkan dengan suatu angka bilangan – yaitu suatu angka bilangan mistik "enam ratus enam puluh enam". Wahyu 13 : 18. 

Keyakinan yang selama ini dianut bahwa angka bilangan "6 6 6" itu adalah angka pengenalan dari sesuatu kuasa yang lain, adalah ciptaan dari Penghulu Kegelapan, yang telah memperhitungkan untuk sedapat mungkin merahasiakan identitas dari kuasa yang bertanduk dua ini. Ilham menaruh angka bilangan itu pada binatang yang bertanduk dua, maka kita harus membiarkannya di sana. Apabila angka bilangan itu pada akhirnya terbentuk, maka hamba-hamba Allah akan mampu meyakinkan semua "orang yang bijaksana" terhadap siapa yang akan dilambangkan oleh binatang itu. Walaupun demikian, kita kini melihat, bahwa orang-orang yang menyelidiki Firman Allah tidak perlu tertipu apabila kuasa ini muncul di atas pentas. Tetapi meskipun adanya amaran Allah yang melarang mempercayai binatang itu, dunia lalai memperhatikannya, sehingga akibatnya bahwa bahkan setelah angka bilangannya terbentuk, maka "ia menyuruh semua orang, baik kecil maupun besar, kaya maupun miskin, merdeka ataupun hamba, untuk menerima suatu tanda dalam tangan kanan mereka, atau dalam dahi mereka". Wahyu 13 : 16.

Kalimat yang berbunyi: "Jika seseorang menyembah binatang itu dan patungnya, dan menerima tandanya di dalam dahinya, atau di dalam tangannya", menunjukkan bahwa semua orang, yang setelah mendengar kebenaran, masih terus menaruh hormat baik secara agama ataupun secara duniawi kepada patung itu, "akan minum dari pada air anggur murka Allah, yang dituangkan tanpa bercampur ke dalam cawan murka-Nya." Wahyu 14 : 9, 10. 

Suatu kesadaran yang penuh terhadap pahala yang gilang gemilang itu yang menunggui manusia bahkan akan mendorong orang-orang sekarang untuk berseru-seru kegembiraan. Dan kesadaran yang sama terhadap hukuman yang mengerikan yang sedang menantikan semua orang yang lalai menjadikan Allah sebagai tempat berlindungnya, akan juga membuat mereka itu sekarang menangis dan mengeretak giginya. Agar supaya semua orang dapat melihat secara sadar akan kedua pilihan masa depan ini, sehingga dengan demikian dapat dipaksa untuk bertobat, maka Tuhan telah berusaha dengan sungguh-sungguh bukan saja untuk mencatat suatu gambaran bagan mengenai kejahatan, yang oleh perantaraan binatang itu Setan telah memutuskannya atas seluruh dunia, tetapi juga untuk jauh sebelumnya membuat dari kejahatan yang sama itu suatu
 
Contoh "Patung Binatang I t u"
yang benar-benar sama. Contoh itu ditemukan pada waktu ---


"Baginda raja Nebukhadnezar telah membuat sebuah patung emas yang tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam hasta. Patung itu didirikannya di lembah Dura di dalam propinsi Babilon. Maka disuruhkan baginda raja Nebukhadnezar akan orang menghimpunkan semua pangeran, para gubernur, dan para panglima, para hakim, para bendahara, para penasehat, para polisi, dan semua penghulu yang memegang pemerintahan di semua propinsi, untuk datang kepada pentahbisan patung itu yang telah didirikan oleh baginda raja Nebukhadnezar ………….

"Kemudian berserulah seorang bintara dengan kuatnya: Hai kamu segala bangsa dan kaum dan orang-orang dari berbagai bahasa, kepadamu diperintahkan, bahwa apabila kamu mendengar bunyi nafiri, dan suling, dan kecapi, harbab, bangsi, serdam, nobat, dan segala jenis bunyi-bunyian, maka hendaklah kamu menyembah sujud kepada patung keemasan yang telah didirikan oleh baginda raja Nebukhadnezar. Maka barangsiapa yang tiada menyembah sujud pada ketika itu juga ia itu akan dicampakkan ke dalam dapur api yang bernyala-nyala." Daniel 3 : 1 – 6.
 
Dalam melaksanakan perintah keputusan yang tegas dan tidak benar ini, ada terdapat tiga aspek yang menonjol : pertama secara amaran mengungkapkan cara dalam mana binatang itu akan memaksa semua bangsa dan orang banyak yang berada di dalam negaranya untuk menyembah dia dan patung yang akan diperbuatnya; kedua secara menunjang memberikan janji bahwa sama seperti halnya di zaman Nebukhadnezar Mikhail telah melepaskan dan meninggikan orang-orang yang menolak menyembah patung keemasan itu (Daniel 3 : 12 - 30), maka demikian pula di waktu ini Ia akan melepaskan dan meninggikan semua orang yang menolak menyembah binatang itu dan patungnya; dan ketiga secara memuliakan mengungkapkan, bahwa sama seperti halnya semua orang yang pada waktu itu berdiri setia, telah membawa suatu rombongan besar orang banyak baik yang tinggi terhormat maupun yang rendah untuk mengakui Dia sebagai Allah Yang Maha Tinggi, maka demikian pula di waktu ini semua orang yang mematuhi amaran untuk tidak menyembah binatang itu atau pun patungnya, akan "bersinar-sinar seperti cerahnya bentangan langit; dan mereka yang membalikkan banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang untuk selama-lamanya." Daniel 12 : 1 - 3.

Secara bergandengan tangan dengan sejarah, maka "firman nubuatan yang lebih pasti itu", yang telah memimpin kita secara lambang demi lambang melalui raja demi raja yang dimulai dengan Babilon kuno yang lalu, dan turun sampai kepada dunia pemerintahan negara yang picik sekarang ini, tentu akan memimpin kita terus sampai kepada akhir sejarah. Sebab itu kita sedang berhadapan dengan kebutuhan yang logis terhadap seekor binatang simbolis yang lain, yang meramalkan dunia kombinasi agama  - politik yang akan datang. Tanpa sesuatu lambang simbol untuk membawa kita melampaui dunia yang ada sekarang, maka nubuatan Firman Allah tidak akan lengkap. Dengan demikian, maka demi untuk masuk akal, kelanjutan, dan kelengkapan, maka rangkaian dari binatang simbolis ini tak dapat tiada harus meliputi juga seekor binatang yang lain, seekor binatang yang pada khususnya akan mengungkapkan Firman Hari Depan. Satu-satunya lambang yang sedemikian ini yang masih ada ialah